Menhub Instruksikan Dermaga Siaga Kapal Saat Angkutan Lebaran 2026

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:09:48 WIB
Menhub Instruksikan Dermaga Siaga Kapal Saat Angkutan Lebaran 2026

JAKARTA - Pergerakan masyarakat saat musim mudik Lebaran selalu menjadi perhatian serius pemerintah, terutama pada jalur penyeberangan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. 

Dengan proyeksi jutaan kendaraan melintas, kesiapan infrastruktur dan armada angkutan menjadi faktor penentu kelancaran arus mudik maupun arus balik. 

Dalam konteks inilah, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menegaskan pentingnya kesiapsiagaan penuh di setiap dermaga pelabuhan penyeberangan selama periode Angkutan Lebaran 2026.

Dudy Purwagandhi selaku Menteri Perhubungan (Menhub) meminta setiap dermaga di seluruh pelabuhan penyeberangan menyiagakan kapal selama periode Angkutan Lebaran 2026. 

Instruksi ini ditujukan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan, khususnya di lintas Jawa–Sumatera yang setiap tahunnya menjadi salah satu jalur tersibuk saat musim mudik.

“Provinsi Lampung merupakan wilayah dengan simpul transportasi terpadat, khususnya untuk lintas kendaraan yang melalui pelabuhan, bersama dengan Pelabuhan Merak karena keduanya saling keterkaitan,” ujar Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi.

Pernyataan tersebut menegaskan posisi strategis Lampung dalam sistem transportasi nasional, terutama sebagai pintu gerbang utama menuju Sumatera melalui jalur penyeberangan. Keterhubungan antara Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Merak menjadi tulang punggung mobilitas kendaraan antarpulau.

Proyeksi Lonjakan Kendaraan di Bakauheni

Menurut dia, kepadatan di Pelabuhan Bakauheni sebagai pelabuhan penyeberangan asal diperkirakan dapat mencapai 813,75 ribu kendaraan. Angka ini menunjukkan tingginya potensi pergerakan kendaraan yang akan menyeberang dari Sumatera menuju Jawa selama periode Lebaran.

Sementara itu, sebagai pelabuhan penyeberangan tujuan, pergerakan kendaraan diproyeksikan menembus 2,94 juta unit. Lonjakan tersebut memperlihatkan bahwa arus kendaraan dari Jawa ke Sumatera maupun sebaliknya diperkirakan meningkat signifikan dibandingkan hari biasa.

Angka tersebut menjadikan Bakauheni sebagai pelabuhan terpadat kedua setelah Pelabuhan Merak yang selama ini dikenal memiliki tingkat kepadatan tinggi saat arus mudik dan arus balik Lebaran. Dengan proyeksi tersebut, pemerintah menilai diperlukan langkah antisipatif yang lebih terstruktur dan disiplin dalam pelaksanaannya.

“Dengan kepadatan ini maka kami mengharapkan pengaturan arus mudik Jawa-Sumatera atau sebaliknya dapat berjalan dengan cepat. Oleh karena itu setiap dermaga di setiap pelabuhan tidak boleh kosong harus ada kapal yang bersiaga,” katanya.

Instruksi ini menekankan bahwa tidak boleh ada dermaga yang tanpa kapal saat periode puncak arus mudik dan balik. Kehadiran kapal yang selalu siap sandar dan berlayar menjadi elemen penting untuk mempercepat proses bongkar muat kendaraan serta meminimalkan waktu tunggu.

Fokus pada Penguatan Manajemen Operasional

Selain kesiapan kapal, Menhub juga menyoroti pentingnya penguatan manajemen operasional di lapangan. Ia menjelaskan bahwa Kementerian Perhubungan akan bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat pengelolaan manajemen operasional di dua pelabuhan penyeberangan terpadat tersebut.

Kolaborasi lintas instansi dinilai krusial agar koordinasi berjalan efektif, mulai dari pengaturan antrean kendaraan, sistem tiket, hingga rekayasa lalu lintas di sekitar kawasan pelabuhan. Tanpa pengelolaan yang terintegrasi, lonjakan kendaraan berpotensi menimbulkan kemacetan panjang bahkan meluas hingga jalan arteri dan tol.

Penguatan ini bertujuan agar operasional di Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Merak selama Angkutan Lebaran 2026 dapat berjalan optimal, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pemudik. Aspek keselamatan juga menjadi prioritas, mengingat tingginya intensitas perjalanan laut dalam waktu singkat.

“Semua langkah antisipasi serta pengaturan kepadatan kendaraan ini akan dilakukan dengan konsisten, sebab potensi pergerakan di Pelabuhan Merak ataupun di Pelabuhan Bakauheni cukup tinggi saat pelaksanaan Angkutan Lebaran,” tambahnya.

Konsistensi dalam penerapan kebijakan dan pengawasan di lapangan diharapkan mampu menekan potensi hambatan operasional. Pemerintah tidak hanya berfokus pada jumlah kendaraan, tetapi juga pada kualitas pelayanan agar masyarakat dapat merasakan perjalanan yang lebih tertib dan terorganisir.

Kunci Kelancaran Arus Jawa–Sumatera

Dengan proyeksi jutaan kendaraan melintas di jalur penyeberangan Jawa–Sumatera, kesiapsiagaan kapal di setiap dermaga dinilai menjadi kunci untuk mencegah antrean panjang serta memastikan kelancaran arus mudik dan arus balik Lebaran 2026.

Kebijakan menyiagakan kapal di setiap dermaga bukan sekadar langkah administratif, melainkan strategi operasional untuk menjaga ritme pergerakan kendaraan tetap stabil. Setiap kapal yang siap beroperasi berarti waktu tunggu dapat ditekan, distribusi kendaraan lebih merata, dan potensi penumpukan dapat diminimalkan.

Selain itu, pengaturan arus kendaraan yang lebih cepat juga akan berdampak pada efisiensi bahan bakar, pengurangan emisi akibat kemacetan, serta peningkatan kenyamanan bagi para pengguna jasa penyeberangan. 

Semua ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadirkan layanan transportasi yang lebih baik saat momentum Lebaran.

Antisipasi sejak dini dinilai penting karena pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa jalur Jawa–Sumatera selalu menjadi salah satu titik krusial arus mudik nasional. 

Dengan langkah kesiapsiagaan penuh di setiap dermaga, pemerintah berharap proses penyeberangan dapat berlangsung lancar tanpa gangguan berarti.

Melalui koordinasi intensif, penguatan manajemen operasional, dan instruksi tegas agar setiap dermaga siaga kapal, Kementerian Perhubungan berupaya memastikan bahwa Angkutan Lebaran 2026 berjalan lebih tertata. 

Dengan demikian, jutaan pemudik yang melintasi jalur penyeberangan dapat melakukan perjalanan dengan aman, nyaman, dan tepat waktu.

Terkini