5 Langkah Cerdas Memulai Investasi Aman untuk Anak Muda

Rabu, 18 Februari 2026 | 11:36:55 WIB
5 Langkah Cerdas Memulai Investasi Aman untuk Anak Muda

JAKARTA - Perubahan pola pikir generasi muda terhadap keuangan kini semakin terasa. 

Jika dulu investasi identik dengan kalangan mapan atau profesional berpenghasilan tinggi, kini anak muda mulai menyadari pentingnya mengelola uang sejak usia produktif. 

Namun, di tengah maraknya pilihan instrumen dan kemudahan akses digital, tak sedikit yang masih ragu memulai karena bingung menentukan langkah pertama.

Kesadaran generasi muda terhadap pentingnya investasi terus meningkat. Namun, masih banyak anak muda yang bingung harus memulai dari mana. Ketua Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Al-Khairiyah, Maya Arisandy, membagikan lima langkah cerdas agar investasi bisa dimulai sejak dini secara aman dan terarah.

Menurutnya, memulai investasi bukan semata soal mencari keuntungan besar dalam waktu singkat, melainkan membangun fondasi keuangan yang kokoh. Dengan pendekatan yang tepat, anak muda bisa menata masa depan finansial tanpa harus terjebak risiko berlebihan.

Memahami Tujuan Keuangan Sejak Awal

Langkah pertama adalah memahami tujuan keuangan. Menurut Maya, anak muda perlu menentukan apakah investasi ditujukan untuk dana darurat, pendidikan lanjutan, membeli rumah, atau persiapan masa depan. “Tujuan yang jelas akan menentukan jenis instrumen dan jangka waktu investasi yang dipilih,” ujarnya saat ditemui RRI, Minggu, 17 Februari 2026.

Penetapan tujuan ini menjadi kompas utama dalam perjalanan investasi. Tanpa arah yang jelas, seseorang mudah tergoda tren atau rekomendasi yang belum tentu sesuai kebutuhan. Misalnya, investasi jangka pendek tentu berbeda strategi dengan investasi untuk pensiun yang masih puluhan tahun lagi.

Dengan tujuan yang terukur, perencanaan pun menjadi lebih realistis. Anak muda dapat memperkirakan berapa dana yang perlu disisihkan setiap bulan serta memilih instrumen yang selaras dengan target waktu.

Membangun Dana Darurat Sebelum Berinvestasi

Kedua, membangun dana darurat sebelum berinvestasi. Ia menekankan pentingnya memiliki tabungan minimal tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan. “Jangan langsung mengejar keuntungan tanpa perlindungan keuangan dasar. Dana darurat itu fondasi,” kata Maya.

Dana darurat berfungsi sebagai penyangga ketika terjadi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan medis mendadak. Tanpa dana ini, investasi yang telah direncanakan bisa terpaksa dicairkan dalam kondisi kurang menguntungkan.

Banyak anak muda yang tergoda langsung menempatkan dana di instrumen berisiko tinggi demi imbal hasil cepat. Padahal, kestabilan finansial justru dimulai dari kesiapan menghadapi kondisi darurat. Dengan fondasi yang kuat, proses investasi akan berjalan lebih tenang dan terencana.

Mengenali Profil Risiko Secara Jujur

Langkah ketiga adalah mengenali profil risiko. Setiap orang memiliki toleransi risiko yang berbeda, mulai dari konservatif, moderat, hingga agresif. Anak muda yang baru mulai disarankan memahami karakter pribadinya sebelum memilih instrumen seperti saham, reksa dana, atau obligasi.

Pemahaman ini penting karena setiap instrumen memiliki potensi keuntungan dan risiko yang berbeda. Investor konservatif biasanya lebih nyaman dengan fluktuasi rendah, sedangkan investor agresif siap menghadapi volatilitas demi potensi imbal hasil lebih tinggi.

Dengan mengenali profil risiko, keputusan investasi menjadi lebih rasional. Anak muda tidak mudah panik saat pasar bergejolak karena sudah memahami konsekuensi dari pilihan instrumen yang diambil.

Mulai dari Nominal Kecil namun Konsisten

Keempat, mulai dari nominal kecil namun konsisten. Maya menjelaskan bahwa saat ini banyak platform investasi yang memungkinkan setoran awal terjangkau. “Tidak perlu menunggu punya uang besar. Konsistensi jauh lebih penting dibanding jumlah awal,” ucapnya.

Kemudahan teknologi membuat investasi semakin inklusif. Dengan nominal terjangkau, anak muda dapat mulai membangun kebiasaan menyisihkan sebagian pendapatan secara rutin. Prinsip konsistensi ini memanfaatkan efek compounding atau bunga berbunga dalam jangka panjang.

Menunda investasi hanya karena merasa dana belum cukup justru dapat menghilangkan peluang waktu. Semakin dini memulai, semakin besar potensi pertumbuhan dana di masa depan.

Meningkatkan Literasi dan Waspada Investasi Bodong

Langkah kelima adalah meningkatkan literasi keuangan. Anak muda didorong aktif mengikuti edukasi pasar modal, seminar, maupun diskusi komunitas investasi. “Jangan mudah tergiur iming-iming keuntungan cepat. Pastikan instrumen yang dipilih terdaftar dan diawasi regulator,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar generasi muda menghindari investasi bodong yang marak di media sosial. Verifikasi legalitas perusahaan dan pahami mekanisme produknya sebelum menanamkan dana. Pengetahuan menjadi benteng utama agar tidak terjebak skema penipuan berkedok investasi.

Maya optimis, jika anak muda mulai berinvestasi sejak usia produktif, mereka akan memiliki kemandirian finansial lebih cepat. Dengan disiplin dan edukasi berkelanjutan, risiko dapat dikelola secara bijak.

Investasi sejatinya bukan hanya tentang angka dan grafik, tetapi tentang membangun kebiasaan yang sehat dalam mengelola keuangan. 

Dengan perencanaan matang dan pemahaman yang cukup, investasi dapat menjadi langkah strategis bagi generasi muda dalam menyiapkan masa depan yang lebih stabil dan sejahtera. “Investasi bukan hanya soal keuntungan, tetapi membangun kebiasaan disiplin dan perencanaan masa depan,” ujarnya.

Terkini